Indonesia
Sanitation Sector Development Program (ISSDP) membuat Iklan Layanan masyarakat
(ILM) Tahun 2007. Iklan ini bertujuan untuk mengurangi angka kematian balita
akibat diare. Mencuci tangan adalah cara efektif dan mudah untuk mencegah
penyakit seperti diare mematikan.
Salah
satu cara memberikan pesan atau menggalakkan masyarakat untuk membiasakan cuci
tangan menggunaka sabun adalah melaui iklan. Iklan merupakan media yang cukup
efektif membentuk tradisi, dalam hal ini konstruksi tradisi tersebut dapat
dilakukan dengan 3 aspek, yaitu: idealisasi, trend, dan gaya hidup
Pada
segi idealisasi, figur-figur yang menjadi ikon iklan ini adalah Animasi
karakter sabun dengan bentuk persegi panjang seperti sabun, berwarna biru,
mempunyai kaki, tangan dan wajah, animasi sabun ini menjadi tokoh utama karena
berperan aktif dan menjadi pembahasan utama pada iklan ini dan di buat menjadi
animasi agar terlihat lebih menarik dan bisa berbicara. Kemudian ada 4 ibu
rumah tangga (2 ibu yang menggunakan daster dengan rambut di ikat kebelakang, 1
ibu yang hanya terlihat bagian tangannya saja yang telah membersihkan anak
balita, 1 ibu berjilbab yang sedang menyuapi anaknya), seorang laki-laki
sekitar umur 35 dengan ciri fisik berbadan besar berkumis serta berjanggut,
kemudian 1 bayi perempuan berumur sekitar 10 bulan dan balita laki-laki berumur
sekitar 3 tahun.
Audio
visual dalam iklan ini yaitu pada shot pertama pengambilan gambarnya
menggunakan jenis pengambilan gambar long shot dan high angle yang menampilkan
gambar gang dan rumah penduduk yang padat, fungsi pengambilan gambar long shot
yaitu agar terlihat jelas suasana rumah-rumah penduduk yang ramai. Pada shot ke
2 jenis shotnya yaitu close up mengambil gambar tangan seorang ibu rumah tangga
yang sedang mencuci tangan di keran dengan background tembok keramik kecil,
handuk kecil dan piring yang menggambarkan bahwa ibu tersebut berada di dapur,
pada adegan kedua ini mulai muncul animasi sabun berbentuk persegi panjang
dengan disertai kaki, tangan dan wajah, fungsi pengambilan gambar close up
yaitu agar penonton terfokus pada tangan ibu tersebut yang sedang mencuci
tangan. Pada shot ke 3 jenis shot yang di gunakan yaitu medium shot dengan
keadaan ibu yang menggunakan daster dan rambut terikat di belakang yang masih mencuci
tangan dan background ruangan sedikit gelap dan ada rak piring dan piring yang
berada di samping ibu tersebut, pengambilan gambar medium shot bertujuan agar
background semakin jelas bahwa ibu tersebut sedang berada di dapur, kemudian
muncul animasi sabun dengan dialog “poo”.
Shot
ke 4 sama seperti adegan kedua yaitu pengambilan gambar close up pada tangan
yang sedang mencuci tangan dengan dialog animasi “Biasakan cuci tangan”.
Kemudian pada shot ke 5 pengambilan gambarnya yaitu close up keran yang berada
di bawah jendela, animasi sabun tersebut berada di jendela yang kemudian
mengambil sabun dengan dialog “Pakai sabun” melanjutkan dialog sebelumnya. Pada
shot ke 6 mengambil gambar close up wajah ibu tersebut sambil berkata “Sabun??
Kan sudah bersih” menanyakan kepada animasi karakter sabun yang berada di
depannya.
Shot
ke 7 menggunakan pengambilan gambar close up pada tangan ibu tersebut dan
tangan animasi sabun yang sedang memberikan sabun kepada ibu tersebut dengan
dialog “Pakai air saja”. Pada shot ke 8 pengambilan gambar dari atas atau di
sebut high angle, menggunakan jenis medium shot dengan adegan ibu tersebut
mencuci tangannya menggunakan sabun dengan di sertai dialog animasi “tidak
cukup, biasakan cuci tangan” lanjutan dialog dari shot sebelumnya. Pada shot ke
9 pengambilan gambar close up tangan ibu tersebut yang sedang mengelapkan
tangannya ke handuk kecil dengan dialog animasi “selalu pakai sabun” lanjutan
dari dialog sebelumnya. Pada shot ke 9 pengambilan gambar high angle medium
shot yaitu adegan seorang laki-laki sekitar umur 35 dengan fisik berbadan
besar, berkumis dan berjanggut yang baru keluar dari toilet menggunakan handuk
dan kaos singlet, pengambilan gambar menggunakan high angle medium shot agar
background toilet dan papan yang bertuliskan toilet terlihat jelas, kemudian
muncul animasi sabun dengan dialog “Setelah buang air besar”.
Pada
shot ke 10 pengambilan gambar medium shot seorang bapak yang ada di shot
sebelumnya sedang makan di meja makan dengan background jendela dan ada 2
piring lauk, 1 toples kerupuk, 1 gelas kopi yang ada di depan bapak tersebut,
ini menjelaskan bahwa bapak tersebut berada di ruang makan, kemudian muncul
animasi sabun dengan dialog “sebelum makan”. Pada shot ke 11 pengambilan gambar
menggunakan knee shot, yaitu adegan seorang ibu rumah tangga yang menggunakan
daster dengan rambut di gulung kebelakang yang sedang menyiapkan makanan dengan
background pintu kayu dan ada rak piring beserta piringnya di samping ibu
tersebut, ada teko air dan mangkuk di depan ibu tersebut dan ada panci dan
centong yang tergantung di dinding, ini menggambarkan bahwa ibu tersebut berada
di dapur, kemudian muncul animasi sabun dengan dialog “ Sebelum menyiapkan
makanan”. Pada shot ke 12 pengambilan medium shot, adegan tangan ibu seusai
membersihkan anaknya yang masih bayi, disini bayi tersebut sedang berada di
kasur dalam keadaan badan tertidur dengan kepala ber-alaskan bantal dan badan
beralaskan selimut tanpa menggunakan pakaian, kemudian munculanimasi sabun
dengan dialog “Setelah membersihkan anak”.
Pada
shot ke 13 pengambilan gambar menggunakan medium shot, adegan seorang ibu
berjilbab menyuapi makan anaknya yang masih balita dengan backgroun tembok,
jendela dan tanaman hias, property yang ada di depan yaitu toples kerupuk dan
piring yang menggambarkan bahwa ibu tersebut berada di meja makan, kemudian
muncul aimasi sabun dengan dialog “Dan sebelum menyuapi anak, agar tidak
terkena diare mematikan”. Pada shot ke 14 pengambilan gambar low angle dan
medium close up, pada shot ini ibu rumah tangga yang pertama berbicara dengan
ibu rumah tangga yang ada di shot 13 dengan dialog “Cuci tangan pakai sabun
dulu” dengan wajah sinis.
Pada
shot ke 15 menggunakan pengambilan gambar full shot untuk menggambarkan bahwa
itu ada di ruang makan, ruangan yang sama di pakai pada shot ke 10, 13 dan 14
dengan background dinding dan jendela dan property meja makan, bangku, makanan
lauk pauk dan segelas kopi. Pada adegan ini dua orang ibu rumah tangga yang ada
pada shot 15 sedang menghadap dan mendengarkan animasi sabun yang berbicara
dengan dialog “Iya, sabun itu mampu menghilangkan semua kotoran bahkan kotoran
yang tidak terlihat sekalipun”. Pada shot terakhir pengambilan gambar
menggunakan jenis full shot agar semua orang terlihat, disini ada 9 orang
dewasa (6 orang ibu-ibu dan 3 orang bapak-bapak), 1 oraang bayi yang di gendong
oleh seorang ibu, 1 orang balita yang di gendong seorang ibu, dan 1 anak kecil
laki-laki yang berumur sekitar 8 tahun, mereka semua berdiri menghadap kamera
sembari mengankat tangannya dengan berkata “Ayo!! Biasakan cuci tangan pakai
sabun!” serempak bersama dengan animasi sabun, ini menggambarkan bahwa mencuci
tangan pakai sabun bukan hanya untuk ibu-ibu dan bapak-bapak saja tetapi untuk
semua kalangan umur.
Dari
shot-shot tersebut, terlihat audio visual yang di tampilkan pada iklan ini
menggambarkan bahwa masyarakat yang menjadi sasaran iklan ini adalah masyarakat
kalangan urban bukan dari kalangan desa maupun kota. Terlihat dari visual
rumah-rumah penduduk yang padat saling berhimpitan dengan jalan gang-gang
kecil, budaya yang masih menyiapkan makanan, kemudian shot yang menampilkan
seorang laki-laki yang mandi di WC umum, itu adalah keseharian masyarakat
urban. Dari tampilan tersebut terlihat bahwa keseharian masyarakat urban kurang
memperhatikan kebersihan terutama kebersihan tangan. Indonesia Sanitation
Sector Development Program (ISSDP) membuat iklan layanan masyarakat tersebut
untuk menertibkan masyarakat urban agar lebih peduli kepada kebersihan dan
kesehatan terutama untuk kalangan ibu-ibu rumah tangga yang sering berinteraksi
kepada anggota keluarga, agar penyakit seperti diare mematikan tidak semakin
menyebar.
Iklan
ini muncul pada tahun 2007, dimana pada tahun tersebut banyak sekali kasus
kematian balita yang disebabkan oleh penyakit diare, itu dibuktikan dengan
hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdes) 2007, diare menjadi penyebab kematian
31,4 persen bayi berusia 19 hari sampai 11 bulan. Sekitar 162 ribu balita
meninggal akibat diare setiap tahun atau sekitar 460 balita perhari. Maka dari
itu Indonesia Sanitation Sector Development Program (ISSDP) membuat Iklan
Layanan masyarakat (ILM) agar masyarakat dapet lebih memperhatikan kesehatan
dan kebersihan terutama kebersihan tangan dan dapat mengurangi angka kematian
balita akibat diare.
Gaya
hidup pada iklan layanan masyarakat ini mencerminkan gaya hidup yang tidak
sehat, kurangnya memperhatikan kebersihan terutama kebersihan tangan setelah
melakukan kegiatan. Ini terjadi pada masa dimana masyarakat tidak memperhatikan
kesehatan dan kebersihan tangan, sehingga banyak sekali kasus bayi yang
meninggal akibat penyakit diare. Banyak orang yang menyepelekan mencuci tangan
menggunakan sabun, terutama bagi para orang tua yang sedang mengasuh anak,
jarang sekali memperhatikan kebersihan tangan. Karena untuk membersihkan
tangan, mencuci menggunakan air saja tidak cukup, tetapi juga harus menggunakan
sabun, karena mencuci tangan dengan menggunakan sabun dampaknya sangat besar
bagi kesehatan dan dapat mengurangi tingkat terjadinya penyakit diare.
Iklan
layanan masyarakat berformat televisi (audio visual) sangat efektif dalam
menyampaikan pesan kepada khalayak karena penduduk Indonesia masih menjadikan
media televisi sebagai media utama dalam mendapatkan informasi maupun
hiburan sehari-hari dan merupakan media yang jamak dijumpai pada setiap rumah
tangga di Indonesia. Iklan layanan masyarakat pada televisi juga memiliki
efektivitas yang besar karena dengan kemampuan audio visual yang dimilikinya,
televisi menarik untuk dilihat. Sekarang iklan layanan masyarakat juga sudah
wajib tayang di setiap channel televisi, hal ini merupakan salah satu program
untuk memberikan informasi serta pelayanan kepada masyarakat luas melalui media
televisi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar