Rabu, 15 Oktober 2014

Analaisis Iklan Layanan Masyarakat "Cuci tangan pakai sabun"






Indonesia Sanitation Sector Development Program (ISSDP) membuat Iklan Layanan masyarakat (ILM) Tahun 2007. Iklan ini bertujuan untuk mengurangi angka kematian balita akibat diare. Mencuci tangan adalah cara efektif dan mudah untuk mencegah penyakit seperti diare mematikan.

Salah satu cara memberikan pesan atau menggalakkan masyarakat untuk membiasakan cuci tangan menggunaka sabun adalah melaui iklan. Iklan merupakan media yang cukup efektif membentuk tradisi, dalam hal ini konstruksi tradisi tersebut dapat dilakukan dengan 3 aspek, yaitu: idealisasi, trend, dan gaya hidup

Pada segi idealisasi, figur-figur yang menjadi ikon iklan ini adalah Animasi karakter sabun dengan bentuk persegi panjang seperti sabun, berwarna biru, mempunyai kaki, tangan dan wajah, animasi sabun ini menjadi tokoh utama karena berperan aktif dan menjadi pembahasan utama pada iklan ini dan di buat menjadi animasi agar terlihat lebih menarik dan bisa berbicara. Kemudian ada 4 ibu rumah tangga (2 ibu yang menggunakan daster dengan rambut di ikat kebelakang, 1 ibu yang hanya terlihat bagian tangannya saja yang telah membersihkan anak balita, 1 ibu berjilbab yang sedang menyuapi anaknya), seorang laki-laki sekitar umur 35 dengan ciri fisik berbadan besar berkumis serta berjanggut, kemudian 1 bayi perempuan berumur sekitar 10 bulan dan balita laki-laki berumur sekitar 3 tahun.

Audio visual dalam iklan ini yaitu pada shot pertama pengambilan gambarnya menggunakan jenis pengambilan gambar long shot dan high angle yang menampilkan gambar gang dan rumah penduduk yang padat, fungsi pengambilan gambar long shot yaitu agar terlihat jelas suasana rumah-rumah penduduk yang ramai. Pada shot ke 2 jenis shotnya yaitu close up mengambil gambar tangan seorang ibu rumah tangga yang sedang mencuci tangan di keran dengan background tembok keramik kecil, handuk kecil dan piring yang menggambarkan bahwa ibu tersebut berada di dapur, pada adegan kedua ini mulai muncul animasi sabun berbentuk persegi panjang dengan disertai kaki, tangan dan wajah, fungsi pengambilan gambar close up yaitu agar penonton terfokus pada tangan ibu tersebut yang sedang mencuci tangan. Pada shot ke 3 jenis shot yang di gunakan yaitu medium shot dengan keadaan ibu yang menggunakan daster dan rambut terikat di belakang yang masih mencuci tangan dan background ruangan sedikit gelap dan ada rak piring dan piring yang berada di samping ibu tersebut, pengambilan gambar medium shot bertujuan agar background semakin jelas bahwa ibu tersebut sedang berada di dapur, kemudian muncul animasi sabun dengan dialog “poo”.

Shot ke 4 sama seperti adegan kedua yaitu pengambilan gambar close up pada tangan yang sedang mencuci tangan dengan dialog animasi “Biasakan cuci tangan”. Kemudian pada shot ke 5 pengambilan gambarnya yaitu close up keran yang berada di bawah jendela, animasi sabun tersebut berada di jendela yang kemudian mengambil sabun dengan dialog “Pakai sabun” melanjutkan dialog sebelumnya. Pada shot ke 6 mengambil gambar close up wajah ibu tersebut sambil berkata “Sabun?? Kan sudah bersih” menanyakan kepada animasi karakter sabun yang berada di depannya.

Shot ke 7 menggunakan pengambilan gambar close up pada tangan ibu tersebut dan tangan animasi sabun yang sedang memberikan sabun kepada ibu tersebut dengan dialog “Pakai air saja”. Pada shot ke 8 pengambilan gambar dari atas atau di sebut high angle, menggunakan jenis medium shot dengan adegan ibu tersebut mencuci tangannya menggunakan sabun dengan di sertai dialog animasi “tidak cukup, biasakan cuci tangan” lanjutan dialog dari shot sebelumnya. Pada shot ke 9 pengambilan gambar close up tangan ibu tersebut yang sedang mengelapkan tangannya ke handuk kecil dengan dialog animasi “selalu pakai sabun” lanjutan dari dialog sebelumnya. Pada shot ke 9 pengambilan gambar high angle medium shot yaitu adegan seorang laki-laki sekitar umur 35 dengan fisik berbadan besar, berkumis dan berjanggut yang baru keluar dari toilet menggunakan handuk dan kaos singlet, pengambilan gambar menggunakan high angle medium shot agar background toilet dan papan yang bertuliskan toilet terlihat jelas, kemudian muncul animasi sabun dengan dialog “Setelah buang air besar”.

Pada shot ke 10 pengambilan gambar medium shot seorang bapak yang ada di shot sebelumnya sedang makan di meja makan dengan background jendela dan ada 2 piring lauk, 1 toples kerupuk, 1 gelas kopi yang ada di depan bapak tersebut, ini menjelaskan bahwa bapak tersebut berada di ruang makan, kemudian muncul animasi sabun dengan dialog “sebelum makan”. Pada shot ke 11 pengambilan gambar menggunakan knee shot, yaitu adegan seorang ibu rumah tangga yang menggunakan daster dengan rambut di gulung kebelakang yang sedang menyiapkan makanan dengan background pintu kayu dan ada rak piring beserta piringnya di samping ibu tersebut, ada teko air dan mangkuk di depan ibu tersebut dan ada panci dan centong yang tergantung di dinding, ini menggambarkan bahwa ibu tersebut berada di dapur, kemudian muncul animasi sabun dengan dialog “ Sebelum menyiapkan makanan”. Pada shot ke 12 pengambilan medium shot, adegan tangan ibu seusai membersihkan anaknya yang masih bayi, disini bayi tersebut sedang berada di kasur dalam keadaan badan tertidur dengan kepala ber-alaskan bantal dan badan beralaskan selimut tanpa menggunakan pakaian, kemudian munculanimasi sabun dengan dialog “Setelah membersihkan anak”.

Pada shot ke 13 pengambilan gambar menggunakan medium shot, adegan seorang ibu berjilbab menyuapi makan anaknya yang masih balita dengan backgroun tembok, jendela dan tanaman hias, property yang ada di depan yaitu toples kerupuk dan piring yang menggambarkan bahwa ibu tersebut berada di meja makan, kemudian muncul aimasi sabun dengan dialog “Dan sebelum menyuapi anak, agar tidak terkena diare mematikan”. Pada shot ke 14 pengambilan gambar low angle dan medium close up, pada shot ini ibu rumah tangga yang pertama berbicara dengan ibu rumah tangga yang ada di shot 13 dengan dialog “Cuci tangan pakai sabun dulu” dengan wajah sinis.

Pada shot ke 15 menggunakan pengambilan gambar full shot untuk menggambarkan bahwa itu ada di ruang makan, ruangan yang sama di pakai pada shot ke 10, 13 dan 14 dengan background dinding dan jendela dan property meja makan, bangku, makanan lauk pauk dan segelas kopi. Pada adegan ini dua orang ibu rumah tangga yang ada pada shot 15 sedang menghadap dan mendengarkan animasi sabun yang berbicara dengan dialog “Iya, sabun itu mampu menghilangkan semua kotoran bahkan kotoran yang tidak terlihat sekalipun”. Pada shot terakhir pengambilan gambar menggunakan jenis full shot agar semua orang terlihat, disini ada 9 orang dewasa (6 orang ibu-ibu dan 3 orang bapak-bapak), 1 oraang bayi yang di gendong oleh seorang ibu, 1 orang balita yang di gendong seorang ibu, dan 1 anak kecil laki-laki yang berumur sekitar 8 tahun, mereka semua berdiri menghadap kamera sembari mengankat tangannya dengan berkata “Ayo!! Biasakan cuci tangan pakai sabun!” serempak bersama dengan animasi sabun, ini menggambarkan bahwa mencuci tangan pakai sabun bukan hanya untuk ibu-ibu dan bapak-bapak saja tetapi untuk semua kalangan umur.

Dari shot-shot tersebut, terlihat audio visual yang di tampilkan pada iklan ini menggambarkan bahwa masyarakat yang menjadi sasaran iklan ini adalah masyarakat kalangan urban bukan dari kalangan desa maupun kota. Terlihat dari visual rumah-rumah penduduk yang padat saling berhimpitan dengan jalan gang-gang kecil, budaya yang masih menyiapkan makanan, kemudian shot yang menampilkan seorang laki-laki yang mandi di WC umum, itu adalah keseharian masyarakat urban. Dari tampilan tersebut terlihat bahwa keseharian masyarakat urban kurang memperhatikan kebersihan terutama kebersihan tangan. Indonesia Sanitation Sector Development Program (ISSDP) membuat iklan layanan masyarakat tersebut untuk menertibkan masyarakat urban agar lebih peduli kepada kebersihan dan kesehatan terutama untuk kalangan ibu-ibu rumah tangga yang sering berinteraksi kepada anggota keluarga, agar penyakit seperti diare mematikan tidak semakin menyebar.

Iklan ini muncul pada tahun 2007, dimana pada tahun tersebut banyak sekali kasus kematian balita yang disebabkan oleh penyakit diare, itu dibuktikan dengan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdes) 2007, diare menjadi penyebab kematian 31,4 persen bayi berusia 19 hari sampai 11 bulan. Sekitar 162 ribu balita meninggal akibat diare setiap tahun atau sekitar 460 balita perhari. Maka dari itu Indonesia Sanitation Sector Development Program (ISSDP) membuat Iklan Layanan masyarakat (ILM) agar masyarakat dapet lebih memperhatikan kesehatan dan kebersihan terutama kebersihan tangan dan dapat mengurangi angka kematian balita akibat diare.

Gaya hidup pada iklan layanan masyarakat ini mencerminkan gaya hidup yang tidak sehat, kurangnya memperhatikan kebersihan terutama kebersihan tangan setelah melakukan kegiatan. Ini terjadi pada masa dimana masyarakat tidak memperhatikan kesehatan dan kebersihan tangan, sehingga banyak sekali kasus bayi yang meninggal akibat penyakit diare. Banyak orang yang menyepelekan mencuci tangan menggunakan sabun, terutama bagi para orang tua yang sedang mengasuh anak, jarang sekali memperhatikan kebersihan tangan. Karena untuk membersihkan tangan, mencuci menggunakan air saja tidak cukup, tetapi juga harus menggunakan sabun, karena mencuci tangan dengan menggunakan sabun dampaknya sangat besar bagi kesehatan dan dapat mengurangi tingkat terjadinya penyakit diare.

Iklan layanan masyarakat berformat televisi (audio visual) sangat efektif dalam menyampaikan pesan kepada khalayak karena penduduk Indonesia masih menjadikan  media televisi sebagai media utama dalam mendapatkan informasi maupun hiburan sehari-hari dan merupakan media yang jamak dijumpai pada setiap rumah tangga di Indonesia. Iklan layanan masyarakat pada televisi juga memiliki efektivitas yang besar karena dengan kemampuan audio visual yang dimilikinya, televisi menarik untuk dilihat. Sekarang iklan layanan masyarakat juga sudah wajib tayang di setiap channel televisi, hal ini merupakan salah satu program untuk memberikan informasi serta pelayanan kepada masyarakat luas melalui media televisi